PENYELIDIKAN KLB KERACUNAN MAKANAN

Kali ini saya akan menceritakan pengalaman saya terkait penelitian KLB (Kejadian Luar Biasa) saya terkait keracunan makanan. Apa sih KLB itu ? Dan apa itu KLB keracunan pangan????

Kejadian Luar Biasa atau yang biasa disingkat KLB adalah timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan dan/atau kematian yang bermakna secara epidemiologi pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu, dan merupakan keadaan yang dapat menjurus pada terjadinya wabah.

Kejadian Luar Biasa (KLB) Keracunan Pangan adalah suatu kejadian dimana terdapat dua orang atau lebih yang menderita sakit dengan gejala yang sama atau hampir sama setelah mengonsumsi pangan, dan berdasarkan analisis epidemiologi, pangan tersebut terbukti sebagai sumber keracunan.

Berdasatkan kriteria KLB itulah, saat saya menempuh kuliah di FETP UGM saya mendapat tugas untuk menyelesaikan tugas lapangan terkait penelitian yaitu penyelidikan KLB. Saya mengerjakan tugas KLB di Gamping, Sleman. KLB yang saya dapatkan adalah KLB makanan lemper pada anak sekolah dasar.

Pada awalnya, saya mendapat laporan dari dinkes Sleman dimana dinkes Sleman mendapat laporan dari Puskesmas Gamping bahwa ada KLB di SD X di Sleman. Kemudian saya menghubungi teman – teman untuk koordinasi mengenai kasus tersebut. Hari berikutnya kami melakukan investigasi dengan penyelidikan epidemiologi ke murid – murid SD tersebut dengan teknik wawancara. Penyelidikan Epidemiologi adalah penyelidikan yang dilakukan untuk mengenal sifat – sifat penyebab, sumber dan cara penularan serta faktor yang dapat mempengaruhi timbulnya wabah. Selain itu kami juga melakukan wawancara terhadap guru dan kepala sekolah. Kami juga melakukan investigasi ke pihak catering yang membuat makanan tersebut.

Dari laporan ke dinas kesehatan ada 32 siswa yang terlapor yang mengalami mual, muntah, sakit perut, dan pusing setelah makan salah satu makanan yang diberikan dari program pemerintah. Makanan tersebut terdiri dari pastel isi ayam dan lemper isi ayam. Kami melakukan wawancara kepada seluruh siswa yang sakit dan yang tidak sakit tetapi mengonsumsi juga. Makanan yang dikonsumsi juga dikirim ke laboratorium untuk dicek apakah mengandung mikroba yang beracun.

Setelah dilakukan investigasi/ penyidikan, maka didapatkan bahwa total kasus ada 72 siswa yang terdiri dari 30 laki – laki dan 42 perempuan yang berumur antara 6 sampai 13 tahun dan tidak ada yang dirawat di rumah sakit maupun meninggal dunia. Untuk gejala terbanyak adalah sakit perut dan muntah. Berdasarkan perhitungan Attack Rate, makanan yang berpotensi menjadi penyebab keracunan adalah lemper. Dari hasil laboratorium juga didapatkan adanya bakteri Bacillus cereus pada makanan lemper.  Hal ini juga bisa dikarenakan oleh beberapa hal, misalnya seperti bahan makanan yang tidak layak untuk dimasak, cara pengolahan makanan yang tidak benar, atau cara pendistribusian yang tidak tepat sesuai jadwal.

Dari kasus ini kami, menyarankan untuk pihak sekolah dan dinas kesehatan maupun dinas pendidikan untuk lebih ketat dalam peraturan mengenai catering maupun penyajian makanan di sekolah.

Leave a Reply